Dari Warga Untuk Warga Dengan Sukarela
Indonesia Mengajar

By Programmer 27 Apr 2020, 02:54:01 WIB Sekolah
Dari Warga Untuk Warga Dengan Sukarela

Gambar : Photo di SDN Desa Muara Tealake


Sukarelawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dimaknai sebagai orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela, tidak karena diwajibkan atau dipaksakan. Jika kita sejenak mengingat sejarah panjang Indonesia, kita akan menemukan fakta bahwa Indonesia bisa menjadi negara seperti saat ini tidak lepas dari turun tangan para sukarelawan dengan berbagai macam bentuk gerakannya. Mulai dari sukarelawan yang berjuang mengangkat senjata mengusir penjajah sampai sukarelawan yang berjuang mengangkat pena untuk mencerdaskan rakyat Indonesia. Salah satu tokoh sukarelawan adalah Bung Hatta, seorang proklamator kemerdekaan yang juga wakil presiden pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saat beliau bersama Sutan Sjahrir menjalani pembuangan di Banda Neira pada tahun 1936 sampai 1942, beliau memanfaatkan masa pengasingannya dengan kegiatan belajar mengajar. Beliau memilih turun tangan sebagai guru sukarelawan bagi anak-anak di sana. Semangat dan keikhlasan beliau dalam menjadi guru sukarelawan, melahirkan seorang tokoh sejarawan Indonesia bernama Des Alwi yang karenanya film-film perjuangan Indonesia bisa diarsipkan dengan baik.

Dewasa ini bentuk gerakan sukarelawan di Indonesia semakin berkembang dengan berbagai macam bentuk. Mulai dari gerakan yang memang sudah ada sejak lama dan tetap terjaga eksistensinya  sampai sekarang seperti Gerakan Pramuka, sampai gerakan dengan format baru seperti konser amal penggalangan dana, donasi buku, mengembangkan iptek di daerah terpencil, hingga membuat tempat pendidikan gratis. Gerakan tersebut cukup menjadi bukti bahwa masih banyak orang baik di Indonesia yang sekalipun tanpa dibayar tetap bersedia bergerak memajukan Indonesia.

Saya sendiri mulai berkecimpung dalam dunia kesukarelaan pada tahun 2012. Saat itu saya bersama rekan-rekan saya menggerakkan sekolah gratis untuk anak usia dini yang orang tuanya kurang mampu di daerah sekitar kampus. Gerakan yang diprakarsai oleh kakak kelas saya pada tahun 2010 bisa terus berjalan sampai saat ini, dikarenakan setiap sukarelawan memiliki keinginan untuk menjadi solusi dalam memberikan pendidikan bermutu bagi anak usia dini yang terjangkau oleh semua kalangan. Dalam kaca mata saya setiap kegiatan kesukarelaan seperti mengandung zat adiktif tersendiri yang membuat setiap orang yang pernah berkecimpung dalam gerakan tersebut, otomatis akan tertarik lagi untuk mencoba bentuk kegiatan kesukarelaan lainnya. Seperti rekan-rekan sukarelawan saat di kampus yang di kemudian hari semakin banyak terlibat dalam gerakan sukarelawan seperti menjadi inspirator dalam Kelas Inspirasi, menjadi sukarelawan dalam kegiatan Festival Gerakan Indonesia Mengajar, ataupun membuat sekolah gratis di daerah lain dengan mengadaptasi bentuk sekolah tempat ia menjadi sukarelawan pertama kali. Saya sendiri memutuskan untuk menjadi sukarelawan dengan bergabung dalam Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar sebagai Pengajar Muda di Desa Muara Telake, Kecamatan Long Kali, Kabupaten Paser.

Pada awal terjun sebagai sukarelawan, dengan kacamata subjektif saya berpandangan bahwa gerakan bersifat kesukarelaan hanya mampu berkembang di kota-kota, di mana para penduduknya tidak lagi terlalu berfokus pada usaha dalam mengais rezeki, dan terdapat banyak akses untuk mendapatkan bantuan dalam mengadakan gerakan tersebut. Namun saat saya terjun langsung sebagai Pengajar Muda di Desa Muara Telake, saya menemukan kenyataan yang mengubah pandangan tersebut.

Muara Telake mungkin merupakan salah satu desa yang memiliki akses pendidikan lengkap dari tingkat PAUD sampai setingkat SMA, di mana sebagian besar akses pendidikannya digerakkan oleh suatu yayasan yang dikelola masyarakat desa sendiri. Yayasan Raudhatussalam As’adiyah, dengan nama tersebut yayasan ini bergerak, menyediakan akses pendidikan mulai dari Taman Kanak-kanak (TK), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTS), dan Madrasah Aliyah (MA). Berangkat dari kesadaran akan pentingnya keseimbangan antara iptek dan agama, serta keinginan untuk membentuk para generasi muda di Desa Muara Telake agar menjadi insan yang bertakwa, cerdas, dan berbudi pekerti luhur, Bapak Abdussalam pada tahun 1969 mendirikan Madrasah Diniyah atau biasa warga kenal dengan sekolah agama di lingkungan Desa Muara Telake.

Madrasah Diniyah ini pada awalnya berfokus pada pengajaran ilmu agama, namun pada tahun 1975, kurikulum yang diterapkan mulai berkembang dengan mengajarkan juga pelajaran umum setingkat SD, dan pada tahun 1980 terbentuklah MI As’adiyah di Desa Muara Telake. Pembentukan sekolah baru ini bukanlah tanpa hambatan, apalagi mengingat saat itu di Desa Muara Telake sudah terdapat SDN 005 Long Kali, maka perlu usaha lebih untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Berkeliling desa menyebarkan pamflet sampai datang dari satu rumah ke rumah lainnya untuk mengisi formulir pendaftaran murid baru ditempuh oleh para guru yang siap terlambat digaji atau bahkan tidak dibayar, demi tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk memberikan anaknya pendidikan berimbang antara pengetahuan umum dan agama yang saat itu menjadi nilai tambah bagi murid yang bersekolah di MI As’adiyah.

Kehadiran MI As’adiyah sangat membantu pemerintah dalam menyediakan fasilitas pendidikan, mengingat keterbatasan guru dan ruangan yang dimiliki oleh SDN 005 Long Kali, sementara jumlah anak usia SD di Desa Muara Telake semakin banyak dari tahun ke tahun. Saat itu baik lulusan SDN 005 Long Kali dan MI As’adiyah biasanya melanjutkan pendidikan di SMP Terbuka yang kegiatan belajar mengajarnya hanya dilakukan tiga hari dalam seminggu. Dalam perkembangannya SMP Terbuka ini menjadi SMP negeri yang letaknya di desa tetangga. Pada tahun 2002, Yayasan Raudhatussalam As’adiyah membentuk MTS As’adiyah di mana lulusan pertamanya juga menjadi angkatan pertama di MA As’adiyah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi angka putus sekolah anak-anak Desa Muara Telake yang orang tuanya memiliki keterbatasan finansial sehingga sulit untuk menganggarkan biaya lebih bagi anaknya untuk bersekolah di luar Desa Muara Telake.

Sekalipun akses pendidikan sudah lengkap di Desa Muara Telake, tidak serta merta membuat semua anak menikmati pendidikan wajib belajar sembilan tahun. Padahal menurut Bapak Hasan yang merupakan Kepala sekolah MTS As’adiyah dan juga pengelola Yayasan Raudhatussalam, jauh sebelum pemerintah mencanangkan program sekolah gratis, Yayasan Raudhatussalam sudah memberlakukan program tersebut dengan tidak menarik uang pendaftaran dan uang bulanan pada setiap murid mulai dari MI sampai MA, namun hal tersebut terkadang tidak bisa menyadarkan orang tua yang menuntut anaknya bisa segera membantu menguatkan finansial keluarga. Yayasan Raudhatussalam memang selalu berusaha menyediakan pendidikan gratis bagi para muridnya. Sebelum adanya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk madrasah, segala kebutuhan operasional sekolah dipenuhi dari biaya pengelola yayasan sendiri atau donasi dari pihak lain. Para orang tua murid hanya sesekali dimintai keterlibatan dalam pendanaan, saat sekolah mengadakan acara pelepasan di setiap akhir tahun pembelajaran.

Pendidikan gratis yang disediakan Yayasan Raudhatussalam bagi warga Desa Muara Telake tidak menjadikan lulusan dari MI, MTS, MA minim kualitas. Hal ini dibuktikan dengan berbagai macam prestasi yang diraih murid-murid MI, MTS, MA mulai dari juara dalam kegiatan kemah Pramuka, juara pidato bahasa Arab, juara berbagai lomba dalam rangka hari ulang tahun Kementrian Agama, juara olimpiade Geografi tingkat Kabupaten Paser, dan bukti prestasi yang paling membanggakan adalah ketika Rika Sasmita, salah satu anak didik mereka terpilih menjadi delegasi Kalimantan Timur dalam kegiatan Anak Sabang Merauke di Jakarta. Lulusan dari MTS dan MA As’adiyah yang memilih melanjutkan studi di luar desa juga mampu mencatatkan namanya di SMA dan Perguruan Tinggi Negeri ternama di Pulau Kalimantan. Selain itu cita-cita Bapak Abdussalam untuk membentuk insan yang bertakwa, cerdas, dan berbudi pekerti luhur, sepertinya mulai menjadi kenyataan, ketika beberapa murid dan lulusan dari yayasan yang beliau kelola memilih menjadi sukarelawan dalam program Telake Cerdas.

Telake Cerdas merupakan program yang diinisiasi oleh Karang Taruna Desa Muara Telake yang bertujuan menumbuhkan semangat belajar anak-anak usia SD untuk mengisi waktu mereka di luar jam sekolah dengan belajar bersama-sama setiap dua hari dalam seminggu. Gerakan ini dimotori oleh empat guru sukarelawan yaitu Inda, Titin, Isna, dan Sabariah yang semuanya adalah lulusan dari MTS As’adiyah dan tiga orang di antaranya masih berstatus murid di MA As’adiyah. Setiap hari Senin dan Rabu mereka menyisihkan waktu untuk mengajar anak-anak di Mushola desa bagian hulu. Segala kebutuhan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar mereka dapatkan dari kebaikan hati warga Desa Muara Telake, karena jika hanya mengandalkan turunnya dana desa untuk Karang Taruna sepertinya gerakan ini akan tersendat keberjalanannya. Mereka berempat pada usia yang masih sangat muda memilih untuk berkecimpung dalam gerakan kesukarelaan ini, di saat rekan-rekan lainnya memilih kegiatan yang sifatnya hanya bersenang-senang atau kegiatan yang menghasilkan uang.

Motivasi mereka dalam mengajar di antaranya ingin menjadikan ilmu yang mereka dapat di sekolah menjadi sebaik-baiknya ilmu karena bisa bermanfaat untuk orang lain, serta mereka ingin agar anak-anak usia SD di Muara Telake tidak hanya bermain dan menonton televisi dalam mengisi waktu luangnya di luar jam sekolah. Keterlibatan empat Srikandi ini dalam dunia kesukarelaan tidak membuat kewajiban mereka sebagai anak dan murid terbengkalai, mereka mampu mengelola berbagai tugas dan kegiatannya dengan baik sehingga mereka bisa memberikan manfaat tidak hanya bagi diri sendiri dan keluarga, tetapi juga untuk lingkungan sekitar.

Berbagai gerakan kesukarelaan yang saya lihat selama setahun ini membuat saya teringat saat masih SMA dahulu, saya selalu ditekankan untuk terus bertanya tentang apa yang telah saya berikan untuk Indonesia, bukan bertanya apa yang sudah Indonesia berikan untuk saya, dan Bapak Abdussalam serta guru sukarelawan Telake Cerdas telah menunjukkan bahwa banyak cara untuk memberikan sesuatu untuk kemajuan Indonesia di manapun kita berada. Yayasan Raudhatussalam dan Gerakan Telake Cerdas telah menjadi bukti bahwa sebenarnya gerakan kesukarelaan mampu berkembang di seluruh sudut-sudut nusantara dan menjadi solusi atas segala tantangan yang dihadapi bangsa ini. Semoga semangat Bung Hatta dan para sukarelawan lainnya semakin bisa dimaknai oleh kita rakyat Indonesia, sehingga cukuplah rasa cinta dan kejayaan Indonesia di masa yang akan datang menjadi dasar bergeraknya kita untuk bekerja sukarela membangun Indonesia.

Adamhastara Aji




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment