Mesiarah
Mesiarah, sebuah tradisi yang mendekatkan hati

By Programmer 08 Mei 2020, 20:39:57 WIB Desa
Mesiarah

Gambar : Masjid Nurul Khair Telake


Suara derap langkah kaki di atas jalan papan bersahutan dengan suara takbir. Satu demi satu manusia keluar dari rumahnya, Mengenakan pakaian rapi, mayoritas putih. Berjalan memenuhi jembatan papan yang hanya selebar dua meter. Mereka berjalan menuju tempat yang sama, Masjid Besar Nurul Khair. Mereka datang ke masjid untuk melakukan ibadah sekaligus merayakan Idul fitri.

 

Shalat berjalan begitu khidmat. Aku meneteskan air mata. Suara takbir yang bersahutan membawaku pada kenangan kampung halaman. Ya, ini adalah pertama kali aku berlebaran di luar kampung hala­man, jauh dari keluarga. Sedih. Tapi ini adalah bagian dari pengabdian.

 

Shalat ld sudah dikerjakan dan khotbah sudah selesai dibacakan. Jemaah putri, khususnya ibu-ibu, tampak bergegas pulang terburu-buru. Seakan-akan ada yang sudah menunggu mereka di rumah, sedangkan jemaah putra masih tinggal di masjid. Berjabat tangan. Berpelukan sernbari saling memohon maaf. "Pak, mohon rnaaflah lahir dan batin," suara seorang penduduk desa. “Iya, sama-sama Bapak, mohon maaf lahir dan batin,” sahutku sarnbil menjabat tangan seraya merneluknya. Satu demi satu saling memaafkan. Berjabat tangan dan berpelukan, tidak jarang pula yang meneteskan airmata.

 

Tidak bergegas pulang, bapak-bapak ini berkumpul dan menunggu di depan masjid. Nampak mengantri, menunggu sesuatu. Satu rombongan keluar dari satu rumah dan memasuki rumah yang lain. Yang lain menunggu dengan bersenda gurau di pelataran masjid. Rombongan demi rombongan pergi memasuki rumah terdekat dari masjid. Rombongan yang lebih awal melanjutkan silaturahmi ke rumah berikutnya. Rumah demi rumah dimasuki. Keluarga demi keluarga dikunjungi, seraya bersilaturahmi dan saling memaafkan. Semua bergerak menuju hilir desa. Tak tampak satu pun manusia di jalanan hulu desa.

 

Desa ini, Muara Telake, hanya memiliki satu jalan. Jalan papan kayu ulin selebar dua meter. Jalan ini membentang sepanjang 3,6 kilometer dari hulu hingga hilir desa. Bagian hulu merupakan sebutan bagi masyarakat yang tinggal di antara masjid/terminal dengan ujung desa yang mengarah ke hulu sungai. Sedangkan, bagian hilir merupakan sebutan bagi masyarakat yang tinggal di masjid/terminal dengan ujung desa bagian muara yang dekat dengan laut. Masjid dan terminal merupakan pemisah sekaligus penanda desa. Jalan yang hanya satu dan lurus, menjadikan masyarakat di sini memiliki hubungan dekat satu sama lain.

 

Hari ini, hari pertama Idul fitri. Seusai shalat Id, masyarakat bersilaturahmi ke semua penduduk bagian hilir. Tanpa ada komando. Tanpa ada perjanjian tertulis. Semua berkunjung dari satu rumah ke rumah berikutnya. Dari terminal atau dermaga, hingga ujung kampung hilir. Itulah sebabnya para ibu bergegas pulang. Mereka ingin segera menyambut tamu mereka di rumah. Sedangkan anak-anak, remaja, dan orang tua bersilaturahmi ke setiap rumah di bagian hilir. Berangsur-angsur kerumunan di dekat masjid bergerak menuju hilir. Anak-anak tampak paling bersemangat mengunjungi setiap rumah. Pasalnya di setiap rumah, tuan rumah sudah menghidangkan sajian khas Lebaran. "Buras" (seperti ketupat di tradisi Jawa), sup, dan aneka "wade" (kue) diatas nampan-nampan. Setiap pengunjung baik itu anak-anak maupun orang dewasa wajib memakannya. Minimal mencicipi salah satu hidangan yang disajikan.

 

Aku bersama murid-muridku ikut serta dalam tradisi ini. Bersama anak-anak, aku bersilaturahmi ke setiap rumah, mengucapkan selamat hari raya, memohon maaf, dan berbagi cerita. Tidak lupa menyantap hidangan yang disajikan tuan rumah. Sepanjang dua kilometer, secara bergantian kami mengunjungi sekitar 300 rumah, 300 keluarga. Tanpa terasa matahari sudah bergulir ke arah barat ketika kami mengunjungi rumah terakhir di ujung hilir desa, Muara Telake. Kegiatan bersilaturahmi ini merupakan tradisi di desa kami. Masyarakat biasa menyebutnya mesiarah.

 

Mesiarah dilakukan selama dua hari. Jika hari pertama masyarakat berbondong-bondong bersilaturahmi ke desa bagian hilir, hari kedua masyarakat berbondong-bondong bersilaturahmi ke desa bagian hulu. Tradisi ini tidak hanya berlangsung saat merayakan Idul fitri. Saat Idul adha pun tradisi mesiarah tetap dilaksanakan. Bedanya, saat Idul adha desa bagian hulu mendapat kesempatan lebih dahulu, barulah hari kedua masyarakat bergerak ke arah hilir. Mesiarah, tradisi unik di Desa Muara Telake. Mesiarah merupakan wujud nyata dari budaya yang mencitrakan kerukunan dan kebersamaan. Budaya yang membangun hubungan, mempererat yang rengggang dan mengikat yang dekat serta menghubungkan yang jauh. Budaya yang mungkin tidak dapat ditemukan di desa lainnya. Secara adat sudah ter-organisasi, terjadwal dengan baik. Semua masyarakat terlibat, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Mesiarah, sebuah tradisi yang mendekatkan hati.

By Mochammad Amrozi *Dari BUKU Merajut Mimpi Di Sudut Negeri: Antalogi Kisah Pengajar Muda




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment